TABOY, Dominikus Yordan (2024) Deep Ecology Arne Naess sebagai Solusi untuk Mengatasi Ketimpangan Etika Antroposentrisme. Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (440kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Repository staff only Download (464kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Restricted to Repository staff only Download (371kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Repository staff only Download (466kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (283kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA DAN SURAT BEBAS PLAGIAT.pdf Download (568kB) |
Abstract
Krisis ekologi menjadi masalah serius yang mengancam keberlangsungan hidup manusia di dunia dewasa ini. Modernisasi dan kemajuan teknologi yang dikembangkan manusia bagaikan dua mata pisau yang pada satu sisi amat menguntungkan, namun pada sisi yang lain menimbulkan permasalahan serius berupa kerusakan lingkungan yang pada akhirnya merugikan alam dan manusia sendiri. Menurut pandangan para ahli, salah satu faktor pemicu kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini adalah sikap antroposentrisme manusia. Secara umum, antroposentrisme digolongkan sebagai etika ekologi dangkal atau Shallow Ecology. Etika antroposentrisme, memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, dan hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekadar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia. Lebih jauh, etika antroposentrisme beranggapan bahwa prinsip etis-moral berlaku hanya untuk manusia sehingga etika hanya diperuntukkan bagi manusia. Segala diskusi dan tuntutan moral mengenai perlunya manusia menjaga dan memelihara alam dan makhluk lain pada dirinya, dipandang berlebihan, tidak mendasar, dan tidak pada tempatnya. Melalui penjelasan singkat tentang etika antroposentrisme di atas, maka lewat tulisan ini penulis ingin mengutarakan bahwa salah satu penyebab utama krisis lingkungan hidup global saat ini bersumber dari kesalahan filosofisfundamental dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Perkembangan etika antroposentrisme telah menyebabkan manusia keliru memandang alam dan keliru xiii menempatkan diri dalam konteks alam semesta secara keseluruhan, dan kekeliruan inilah yang menjadi awal dari semua bencana lingkungan hidup yang kita alami sekarang. Melihat bahwa etika antroposentrisme telah sangat merugikan alam maupun manusia sendiri, maka tulisan ini juga menghadirkan konsep Deep Ecology dari Arne Naess, seorang filsuf ekologi Norwegia, sebagai salah satu solusi yang dapat dikembangkan bersama untuk memulai kehidupan bersama yang lebih ekologis. Melalui metode kepustakaan, penulis berusaha mengembangkan konsep dasar Naess, untuk melihat tempat manusia dalam dirinya, tempat alam dalam dirinya serta posisi manusia dalam keseluruhan ekosistem. Arne Naess adalah seorang pegiat ekologi yang sangat memperhatikan lingkungan hidup. Ia merupakan salah satu tokoh yang membicarakan tentang paradigma ekosentrisme melalui pandangan yang dikenal dengan sebutan Deep ecology. Menurutnya, krisis lingkungan dewasa ini hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam secara fundamental dan radikal, dengan mengusung pola hidup atau gaya hidup baru, yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga budaya masyarakat secara keseluruhan. Pada dasarnya, filsafat Deep ecology Arne Naess mengemukakan tentang keluhuran nilai kehidupan yang terkandung dalam setiap makhluk di alam semesta. Dengan konsep tentang adanya kesamaan niai intrinsik yang melekat xiv dalam diri setiap makhluk, deep ecology bertujuan untuk mengajak manusia agar menghargai setiap bentuk kehidupan karena nilai yang terkandung dalam dirinya. Selain itu, Deep ecology melibatkan tiga elemen penting, yaitu rasa, spiritualitas, dan tindakan. Spiritualitas Deep ecology menekankan hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dan alam semesta yang lebih besar dari manusia. Spiritualitas merupakan inspirasi besar bagi pembangunan berkelanjutan dari manajemen krisis lingkungan. Ketika keyakinan, gagasan, cita-cita, dan nilai-nilai diintegrasikan ke dalam cara orang berpikir dan bertindak saat berhadapan dengan alam dan lingkungan, maka nilai-nilai etika Deep ecology telah terwujud. Akhirnya, deep ecology bukan merupakan konsep yang dikembangkan untuk “mematikan” pembangunan dan modernisasi kehidupan manusia. Namun, deep ecology bertujuan untuk mengajak setiap orang agar mulai melihat dirinya sebagai bagian integral dari alam, sehingga setiap tindakan yang dilakukan harus memiliki implikasi signifikan dan konsekuensi logis dengan mengutamakan nilainilai positif dan terkait satu sama lain dengan entitas-entitas di sekitar kita. Dapat dikatakan bahwa Deep ecology merupakan pendekatan holistik yang melihat permasalahan di dunia dengan menghubungkan pikiran, perasaan, spiritualitas dan tindakan. Hal ini berimplikasi pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan, karena ekologi tidak dipandang sebagai sesuatu yang jauh melampaui manusia, tetapi ada dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan serta berperan penting dalam kehidupan manusia.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General) B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics |
| Divisions: | Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat |
| Depositing User: | Perpustakaan UNWIRA |
| Date Deposited: | 17 Jul 2026 03:22 |
| Last Modified: | 17 Jul 2026 03:22 |
| URI: | http://repositori.unwira.ac.id/id/eprint/24777 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
