TOIS, Gregorius Barbarigo (2024) Perencanaan dan Perancangan Pusat Kebudayaan Belu di Kota Atambua (Tema Metafora Arsitektur). Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (700kB) |
|
|
Text
BAB 1 .pdf Download (252kB) |
|
|
Text
BAB 2_.pdf Restricted to Repository staff only Download (706kB) |
|
|
Text
BAB 3_.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
|
|
Text
BAB 4_.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
|
|
Text
BAB 5_.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (561kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA DAN SURAT BEBAS PLAGIAT.pdf Download (780kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (1MB) |
Abstract
eradaban manusia terutama dalam era globalisasi mendorong dan meningkatkan interaksi antara berbagai wilayah dan populasi di seluruh dunia. Peningkatan interaksi tersebut membawa budaya asing yang masuk dan mempengaruhi kebudayaan di Indonesia, terlebih di daerah strategis seperti daerah perbatasan. Oleh karena itu nilai-nilai budaya perlu dipertahankan sebagai identitas budaya bangsa. Kabupaten Belu yang menjadi salah satu daerah perbatasan darat di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Demokratik Timor Leste dan sejalan dengan menurunnya jumlah kelompok seni di Kabupaten Belu sehingga menjadi salah satu perhatian dalam upaya mempertahankan budaya lokal. Salah satu penyebab penurunan jumlah kelompok seni tersebut adalah kurangnya fasilitas atau sarana pendukung dalam upaya pengembangan, pengenalan, dan pelestarian sehingga diperlukan suatu fasilitas baru sebagai wadah untuk mendukung segala upaya diatas. Berangkat dari permasalahan ini, kemudian dipikirkan untuk menghadirkan fasilitas pusat kebudayaan Belu di kota Atambua yang diharapkan dapat tetap mempresentasikan identitas atau karakter lokalitas setempat, Kota Atambua dipilih sebagai lokasi perencanaan dikarenakan Atambua merupakan ibukota kabupaten Belu sekaligus Kota perbatasan yang akan menjadi salah satu pintu masuk budaya asing sehingga dengan adanya fasilitas ini mampu menjadi wajah Indonesia dalam mengenalkan budaya Indonesia khususnya budaya Belu kepada masyarakat luar. Penggunaan pendekatan metafora arsitektur bertujuan agar Pusat Kebudayaan Belu menjadi wadah yang menarik untuk aktifitas masyarakat dalam belajar, mengembangkan, serta memperkenalkan budaya Belu, Wadah ini yang kemudian diangkat menjadi objek metafora. Tanasak adalah karya seni kriya orang Belu yang berfungsi sebagai wadah sirih pinang, perhiasan dan barang keseharian lainnya, berdasarkan fungsinya sebagai wadah itu kemudian tanasak dipilih sebagai objek yang di metafora pada fasilitas pusat kebudayaan yang sekaligus menjadi ikon baru di kota Atambua dengan arsitekturnya.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Pusat Kebudayaan, Metafora Arsitektur. |
| Subjects: | N Fine Arts > NA Architecture |
| Divisions: | Fakultas Teknik > Program Studi Arsitektur |
| Depositing User: | Gregorius Barbarigo Tois |
| Date Deposited: | 30 Jun 2026 07:10 |
| Last Modified: | 30 Jun 2026 07:10 |
| URI: | http://repositori.unwira.ac.id/id/eprint/24716 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
