DE ARAUJO, David (2025) Ateisme Menurut Jean-Paul Sartre dan Fundamentalisme Agama: Belenggu Kebebasan. Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
|
Text
cover fix.pdf Download (638kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (446kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Repository staff only Download (685kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Restricted to Repository staff only Download (333kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Repository staff only Download (514kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (277kB) |
|
|
Text
daftar pustaka fix.pdf Download (439kB) |
|
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (823kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA DAN SURAT BEBAS PLAGIAT.pdf Download (439kB) |
Abstract
Dalam pemikiran filsafat, kebebasan tidak hanya dipahami sebagai kebebasan lahiriah atau politik, tetapi sebagai otonomi batiniah—kemampuan individu untuk menentukan arah hidupnya sendiri secara sadar dan rasional. Eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan dari kapasitasnya untuk memilih, menilai, dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Kebebasan adalah dasar dari martabat manusia dan merupakan syarat utama bagi pencarian makna dalam hidup. Kedua pendekatan ini yakni ateisme eksistensialis dan fundamentalisme agama berangkat dari kegelisahan manusia yang sama: pencarian makna dan kepastian dalam hidup. Namun ironisnya, keduanya dapat berakhir dalam bentuk belenggu baru yang justru mengingkari kebebasan manusia itu sendiri. Dalam ateisme eksistensialis, kebebasan menjadi beban yang menyisakan kekosongan, karena manusia tidak lagi memiliki acuan transenden. Dalam fundamentalisme, kebebasan ditolak demi ketundukan total kepada otoritas ilahi yang diformulasikan secara sempit. Maka, meskipun tampak berlawanan, keduanya sesungguhnya bertemu dalam titik yang sama: pengingkaran terhadap kebebasan manusia sebagai makhluk yang bernalar, beriman, sekaligus mencari makna secara otonom. Oleh karena itu, membandingkan dua kutub ekstrem ini menjadi penting bukan hanya sebagai kajian filosofis atau teologis, tetapi sebagai refleksi eksistensial tentang batas-batas kebebasan manusia. Dalam dunia yang semakin plural dan kompleks, pemahaman yang lebih dalam mengenai relasi antara kebebasan, iman, dan otonomi moral menjadi sangat mendesak. Perbandingan ini membuka ruang untuk mempertanyakan kembali: apa batas kebebasan manusia? Apakah kebebasan sejati bisa ditemukan dalam ketiadaan Tuhan atau dalam kepatuhan total terhadap doktrin agama? Ataukah, justru, kebebasan sejati memerlukan ruang dialog antara iman dan akal, antara keterbukaan spiritual dan tanggung jawab moral individu? Berdasarkan kasus-kasus di atas, penulis memulai tulisan ini di bawah judul: Ateisme Menurut Jean-Paul Sartre dan Fundamentalisme Agama: Belenggu Kebebasan, di mana penulis mencoba untuk membahas pengertian serta konsep penolakan Jean-Paul Sartre terhadap Tuhan Yang Mahakuasa dan juga Fundamentalisme Agama, kemudian penulis mencoba untuk membuat studi banding agar bisa menemukan titik perbedaan dari kedua pernyataan yang sama yakni belenggu atas kebebasan.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General) B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat |
| Depositing User: | David De Araujo |
| Date Deposited: | 29 Jun 2026 05:16 |
| Last Modified: | 29 Jun 2026 05:16 |
| URI: | http://repositori.unwira.ac.id/id/eprint/24713 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
